Enzim, Biokatalis yang Makin Populer

 


Tren penggunaan enzim pada pakan unggas di dunia terus meningkat, termasuk Indonesia. Biokatalis yang mempercepat reaksi-reaksi kimia ini, kini dijadikan pilihan pertama dalam mengoptimalkan performa produksi unggas sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.
Belum lama ini di Bogor, pakar enzim pakan unggas dari University of Maryland, Amerika Serikat, Prof Rosaline Angel berbagi hasil penelitian dan perkembangan enzim pakan pada nutrisi unggas. Angel mengatakan bahwa enzim adalah protein. Dalam aktivitasnya, dapat dipengaruhi oleh beberapa molekul. Inhibitor yaitu molekul yang menurunkan aktivitas enzim dan aktivator yaitu molekul yang meningkatkan aktivitas enzim.
Enzim juga spesifik terhadap suhu dan pH, kata Angel. Menurutnya, rentang pH lebih penting diperhatikan ketimbang pH optimum dari suatu enzim. Tak kalah pentingnya, Angel juga menyebut tiap enzim memiliki substrat spesifik. ”Substrat ini sangat penting dalam reaksi enzimatik. Ibarat gembok dan kunci, substrat adalah gembok dan enzim adalah kuncinya. Karena itu kita harus memperhatikan substrat ini,” katanya.
Terang Johney Lee – General Manager Animal Science Marketing Division CTC Bio – perusahaan produsen enzim pakan asal Korea –, substrat merupakan molekul saat awal proses enzimatik yang kemudian dikonversi menjadi molekul lain sebagai produknya. Sebagai contoh, produk dari enzim lactase adalah galaktosa dan glukosa, yang merupakan hasil konversi dari substrat laktosa. ”Contoh lainnya, enzim phytase substrat spesifiknya adalah phytate. Glucanase adalah glucan, xylanase adalah xylan dan mannanase adalah mannan,” tuturnya kepada TROBOS belum lama ini di Jakarta.
Tambah Lee, dari sekian banyak enzim pakan yang ada, ada 2 jenis enzim yang banyak digunakan pabrik pakan. Yaitu enzim phytase dan enzim yang mendegradasi NSP (Non-Starch Polysaccharide). Enzim yang mendegradasi NSP ada beberapa macam, kata Lee, antara lain xylanase, β-glucanase, dan β-mannanase.

Kestabilan Panas Enzim Phytase
Angel menginformasikan, dibanding 5 tahun lalu, penggunaan enzim phytase pada pakan broiler (ayam pedaging) di Amerika Serikat sekarang mencapai sekitar 95 %. Tingginya penggunaan ini, menurutnya, karena pabrik pakan memahami bagaimana cara kerja dan manfaatnya, yaitu dapat menurunkan biaya pakan karena menurunkan level penggunaan P (fosfor) inorganik. Sekaligus menurunkan ekskresi P pada feses. 
Di Indonesia, kata Suaedi Sunanto yang Animal Nutrition and Health Manager DSM Indonesia, penggunaan enzim phytase pada pakan layer (ayam petelur) mencapai sekitar 95 %.
β-mannanase dan PKM
Dari enzim yang mendegradasi NSP, kata Lee, β-mannanase cukup banyak digunakan pada pakan unggas. ”Suplementasi β-mannanase terbukti mampu meningkatkan utilitas energi pada pakan unggas yang berbasis jagung-kedelai dan berpotensi menurunkan biaya pakan. Ini karena enzim ini dapat menghidrolisa β-mannan yang terkandung dalam tepung kedelai,” tuturnya.
Indonesia memiliki jumlah Palm Kernel Meal (PKM – tepung inti sawit) dalam jumlah yang banyak yang potensial untuk bahan pakan alternatif unggas. Melihat kondisi itu, bagi Lee, penggunaan PKM sebagai bahan baku pakan unggas alternatif adalah potensial sebagai upaya efisiensi. PKM mengandung banyak β-mannan. β-mannan juga tergolong serat antinutrisi yang berdampak negatif pada performa produksi unggas. Karena jumlah β-mannan-nya banyak sehingga membuat penggunaan PKM jadi terbatas. ”Enzim β-mannanase dapat menghidrolisa β-mannan yang banyak tersebut, sehingga tidak terdapat lagi efek negatif pada unggas dan bahkan meningkatkan ketersediaan energi,” ungkap doktor lulusan Seoul National University, Korea ini. 
Multi Enzim
Tertarik mendalami interaksi dan pengaruh dari kombinasi berbagai enzim pakan, Angel mengatakan bahwa ia dan timnya akan melakukan penelitian dengan mengkombinasikan enzim phytase, xylanase, dan protease. ”Penelitian ini akan memiliki 7 negatif kontrol. Masing-masing 1 negatif kontrol pada tiap enzim. Dan 4 negatif kontrol untuk kombinasi dari ketiga enzim itu,” terangnya.

Sumber : Majalah Trobos